T PARADOKS NASIONALISME: SIAPA YANG PALING INDONESIA? | Website MAN 21 Jakarta

PARADOKS NASIONALISME: SIAPA YANG PALING INDONESIA?

PARADOKS NASIONALISME: SIAPA PALING INDONESIA?

Oleh: Arif Budiman

 

Saya mengaji dengan sangat rajin dan rutin Kitab Kuning sewaktu masih SMA. Saya sangat menggemari pengajian Kitab Kuning yang pernah disampaikan Kyai saya waktu SMA. Dan itu saya tekuni sejak saya Khatam Al Quran (SD).

 

Aku mungkin sudah bisa lebih dari 3 kitab terselesaikan jika tidak harus mengikuti kajian Barzanji yang mana cara pembacaannya seperti cara membaca AL Quran aku harus selesaikan baris per baris tiap hari. Aku sudah dianggap santri di Pesantren ini layaknya santri pada umumnya.

 

Bahkan aku mengambil jam di luar jam anak ngaji pada umumnya artinya mengikuti Pengajian Santri yaitu Ngaji Kitab Bada Salat 5 waktu. Aku ikuti bersama para santri dewasa di Pesantren.

 

Hari ini aku agak bingung menilai kelakuan orang-orang yang sebetulnya secara budaya aku banyak hidup dan dibesarkan dari tradisi mereka. Aku juga aktif dalam pengajian-pengajian rutin mereka. Tapi hari ini mereka (para yang mengaku penggiat NU, bukan orang dari orang-orang atau santri di kampungku mengatakan bahwa merekala paling Indonesia, Mereka yang paling  NKRI. Dan mereka yang paling nasionalis. Sebuah penilaian seolah menempatkan orang-orang yang di luar nya sebagai tidak nasionalis.

 

Saya akan sebutkan kelompok kelompok ini sebagai yang mewakili seperti PKS, FPI dan yang secara terang-terangan ditolak HTI. Saya bukan PKS, tapi saya adalah orang yang pernah terlibat bersama-sama orang yang ada di dalam Partai. Bahkan berkawan sangat Akrab dengan sebagian mereka sebab di dalamnya ada kawan-kawanku sendiri yang setiap hari ngobrol bersama mereka sepulang sekolah.

 

Aku menulis ini karena ruang publik kita tentang Paradoks Nasionalis ini demikian menyesak dada.

 

Apakah aku juga tidak Indonesia. Sebab ketika saya datang pertama kali Ke Jakarta adalah untuk mengabdi sepenuhnya. Berbakti untuk negeri dimana saya tumbuh dan besar.?

 

Apakah mereka tidak Indoesia, padahal tindakan dan cintanya melebihi cintanya pada Indonesia. Ketika masa SMA bagaimana cikal Bakal PKS masa itu banyak menggelar kegiatan yang berisifat kepemudaan dan keindonesiaan.

 

Sebuah acara yang umumnya memberikan kekuatan dan motivasi kepada anak muda untuk bisa menjaga dirinya. Remaja yang terjaga dari pergaulan bebas dan efek negatif modernitas yang demikian masif  pada masa itu dan juga masa kini. Tantangan generasi muda dulu dan masa sekarang masih sama. Dan itu sangat diperjuangkan kawan-kawan yang hari ini mereka sebut tidak Indonesia

 

Apakah mereka tidak Indonesa. Jika seluruh pemikirannya dituangkan untuk membangun generasi yang kuat. Yang menjadikan para pemuda terjaga. Apakah masih diragukan bagaimana peran mereka bagi Indonesia.

 

Bayangkan jika tak ada halaqoh atau kelompok – kelompok itu,

 

Lalu ketika, isu terorisme muncul. Dan seluruh mata tertuju pada Kelompok ini, lalu ada sebagian dari kelompok ini ikut memaki menghina dan merendahkan..??

 

Dan mencap kelompok itu dengan Anti Indonesia anti NKRI…??

 

Selama ini mereka kemana. Bukankah Agama tak disangktpautkan dengan Politik. Bukankah kita hanya diminta untuk kajian-kajian dan Ibadah di Pesantren semata…?

 

Kini mereka yang paling aktif di Politik dan menyebut dirinya sebagai paling Bernegara?

 

 

Lewat para merek ayang kini dituduh bukan Indonesia, kita jauh hari sudah dikenalkan bagaimana wajah Politik kita. Lewat mereka yang mengajarkan politik adalah Ibadah, dan membaut kita igin mewarnai negara ini dengan spiritual yang artinya menjadikan Negara ini makin beradab?

 

Bagimana Mungkin Kita Tidak Indonesia…?

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply