T GERAKAN MELEK BUDAYA: Program Literasi Kearifan Lokal Di Madrasah | Website MAN 21 Jakarta

GERAKAN MELEK BUDAYA: Program Literasi Kearifan Lokal Di Madrasah

GERAKAN MELEK BUDAYA:

Program Literasi Kearifan Lokal Di Madrasah

Nur Aeni, S.Pd[1]

 

Prihatin adalah kata yang tepat kita gunakan untuk menggambarkan nasib kebudayaan kita yang sedang dilanda krisis.  Sebuah bangsa semestinya berdiri tegak berdiri diatas budayanya sendiri dan bukan sebaliknya yaitu bangsa yang jauh dari karakter atau nilainya sendiri. keprihatinan ini bertambah besar ketika pejabat yang semestinya menjadi panglima pelestarian budaya, justru malah memberi dukungan pada generasi muda yang menggilai budaya asing (Korea). Berikut ini adalah sepenggal kutipannya:

“Saat ini anak muda diberbagai pelosok Indonesia mulai mengenal artis artis kpop dan gemar menonton drama Korea. Ketertarikan warga Indonesia terhadap Korea mendorong ketertarikan orang Korea untuk datang ke Indonesia. Maraknya budaya kpop diharapkan dapat juga menginspirasi munculnya kretifitas anak muda Indonesia dalam berkreasi.” Salah satu penggalan pidato petinggi negara dalam acara 100 tahun kedatangan warga Korea di Indonesia melalui konferensi video(20/9/2020).

 Kebudayaan memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat di suatu bangsa, termasuk di dalamnya adalah Indonesia. Dalam statistik kebudayaan  tahun 2016 dijelaskan Indonesia memiliki 979 cagar budaya, 6.238 warisan budaya tak benda, dan 434 museum. (Statistik Kebudayaan, Kemendikbud. 2016). Hal ini membuktikan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Apabila kebudayaan-kebudayaan tersebut melekat erat dalam kehidupan masyarakatnya tentu bangsa Indonesia mampu bersaing dalam lingkup internasional.

Dewasa ini, keberadaan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia mendapat tantangan yang sangat besar. Nilai-nilai luhur yang semestinya dipertahankan, kini mulai memudar. Hal ini terlihat dari eksistensi budaya sebagai jati diri bangsa yang mulai ditinggalkan seperti kesenian daerah yang tidak lagi disuka para remaja, berpindah ke budaya Kpop dan tiktok. Arus globalisasi menjadi fenomena yang tak terelakan (Schotle. 2001). Perkembangan teknologi dan komunikasi yang demikian masif menjadi salah satu faktor utama yang menentukan terjadinya perubahan budaya itu.

Semua lapisan tanpa terkecuali, terpengaruh dengan perubahan itu, termasuk di dalamnya generasi muda yang notabene masih berstatus pelajar. Banyak dari mereka yang justru sangat mengidolakan budaya asing dari pada kebudayaan sendiri. Mereka para generasi muda sangat mengidolakan budaya luar. Salah satu yang menjadi trend di kalangan muda atau kaum pelajar ini adalah gandrungnya pada kpop dan drakor.

Di tengah keprihatinan budaya sendiri, ada hal yang justru menambah memprihatinkan itu yaitu ada fakta yang memperlihatkan ada dari sebagian petinggi Negara ini yang justru memberikan dukungan kepada anak muda Indonesia dalam mengidolakan artis artis asing daripada artis Indonesia. Alasan pemberian dukungan ini adalah untuk merangsang kreatifitas generasi muda Indonesia.

Negara-negara maju secara tidak langsung menggunakan sarana teknologi dan komunikasi sebagai media untuk memperkenalkan budaya. Indonesia yang masyarakatanya menjadi konsumen mendapat dampak yang buruk. Dampak buruk tersebut diantaranya: (1) melemahnya nilai-nilai budaya yang mengakar dalam pola perilaku, (2) lebih menyukai kebudayaan negara lain, (3) mengimplementasikan budaya negara lain dalam kehidupan sehari-hari (Chaidir. 2014).

Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan yang bersifat preventif dan represif untuk menjaga eksistensi kebudayaan dalam kehidupan masyarakat. Kebijakan tersebut diantaranya: (1) mengeluarkan peraturan Undang-undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, (2) mendaftarkan warisan budaya tak benda ke United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), (3) mengajak pemerintah daerah untuk memperkuat festival kebudayaan, dan (4) memberdayakan berbagai daerah untuk mengeksplor kebudayaan sebagai objek utama pariwisata. Usaha tersebut belum terlalu berpengaruh kepada pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai dan eksistensi budaya yang dimiliki oleh Indonesia.

Merujuk pada pernyataan di atas terdapat beberapa data yang menunjukan bahwa berbagai kebijakan yang telah dilakukan belum memberikan penyadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya eksistensi dan nilai-nilai dalam budaya. Dikutip dari laman liputan6.com (liputan6.com. 2015) disebutkan beberapa kebudayaan Indonesia yang pernah diklaim negara lain yang menunjukkan betapa lemahnya ketahanan budaya kita. Dalam laman ini disebutkan antara lain: (1) wayang kulit, (2) lagu rasa sayange, (3) batik, (4) reog ponorogo, (5) rendang, (6) angklung, (7) tari pendet, (8) tari piring, dan (9) kuda lumping.

Krisis budaya sangat terlihat pada fenomena pemuda kita yang cenderung menyukai keberadaan budaya luar, kehilangan asas sopan santun, digandrungi gaya hidup hedonisme (Musa. 2015).

Kerugian yang sangat besar apabila masyarakat Indonesia benar-benar kehilangan kesadaran berbudaya dalam kehidupan sehar-hari. Selain kuantitas yang cukup banyak akan kepemilikan budaya, falsafah hidup juga kerap menjadi pembelajaran dalam berbudaya. Salah satu bentuk budaya yang menjadi pedoman hidup secara turun-temurun adalah adanya kearifan lokal. Menurut Ridwan (2007) kearifan lokal dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Hal ini berarti setiap wilayah memiliki norma atau aturan tersendiri untuk menyikapi suatu hal..

Dalam upaya menanggulangi krisis budaya ini dilakukan dengan dengan melakukan penyadaran akan pentingnya nilai-nilai kearifan local yang disebut usaha penyadaran budaya. Secara mudah kita bisa menyebut usaha ini disebut dengan “Melek Budaya” dengan melakukan literasi kearifan lokal. Ini adalah upaya penyadaran untuk membangun kesadaran budaya, sebuah usaha yang semestinya didukung oleh semua pihak termasuk dunia atau lingkungan madrasah.

Kesadaran berbudaya oleh masyarakat disampaikan melalui program literasi budaya yang berasal dari upaya represif dan preventif terhadap adanya krisis berbudaya. Ranah yang menjadi sasaran dari program ini adalah seluruh pemangku kepentingan terutama masyarakat, pemerintah, madrasah, dan keluarga. Prinsip dari program ini terdiri dari tiga hal: (1) berkelanjutan, (2) terintegrasi, dan (3) berkolaborasi. Pertama, prinsip berkelanjutan berarti program ini memiliki berbagai tahapan dan harus dilakukan secara terus-menerus tanpa memandang adanya perbedaan atau pergantian suatu formasi pemerintahan. Landasannya bahwa program ini tidak memiliki tujuan politik suatu pemerintahan melainkan sebagai upaya preventif dan represif akan rendahnya kesadaran budaya masyarakat Indonesia. Kedua, prinsip terintegrasi berarti program ini dapat dimasukan dalam berbagai program yang diadakan berbagai kementerian atau lembaga lain. Dengan demikian, upaya saling menguatkan dan saling melengkapi menjadi satu bagian proses berjalannya program ini. Ketiga, prinsip kolaborasi berarti adanya bentuk kerjasama dari berbagai pemangku kepentingan mulai dari ranah yang kecil ke ranah yang besar seperti lingkup keluarga, sekolah hingga lingkup Nasional. Hal ini menjadi bentuk cerminan kepada masyarakat bahwa untuk menyukseskan program ini bukan hanya pemerintah semata yang bekerja namun seluruh pemangku kepentingan memiliki peranan untuk saling membantu.

Program-program yang ditawarkan dalam Gerakan “Melek Budaya” diimplementasikan dalam proses kehidupan sehari-hari. Beberapa program dalam Gerakan Melek Budaya yaitu: (1) Mata Pelajaran Kearifan Lokal, (2) Pojok Budaya, (3) Kirab Budaya, (4) Budayawan Masuk Madrasah, (5) Rekreasi Budaya dan (6) Pekan Apresiasi Budaya. Penjabaran dari program-program tersebut adalah sebagai berikut.

 

  1. Mata Pelajaran Kearifan Lokal

Wilayah Indonesia yang terbentang luas menimbulkan keragaman kearifan lokal masing-masing daerah. Kearifan lokal yang menjadi pedoman hidup masyarakat masing-masing wilayah menjadikan kearifan lokal patut untuk dipandang penting dan utama. Menjadikan mata pelajaran tersendiri akan membuat peserta didik fokus dan paham akan kearifan lokal yang dimiliki oleh wilayahnya. Puncak akhir dari mata pelajaran kearifan lokal dapat dilakukan dengan membuat pertunjukan budaya dalam lingkup madrasah. Misalnya di Madrasah kita dengan mengadakan kegiatan ajang kreatifitas bakat pelajar istilah kerennya  AKBP yang tema kegiatannya adalah kebudayaan Betawi,bisa ngelenong, menampilkan tari topeng, sirih kuning, palang pintu dan lain-lain.

 

  1. Bincang Budaya.

Proses bertukar pikir dalam suatu lingkar komunikasi akan memberi ruang untuk berpendapat dan mencari ilmu. Adanya Bincang Budaya yang diadakan secara rutin dan terus-menerus akan menjadi pembiasaan yang baik bagi peserta didik. Bincang budaya dilakukan secara rutin dan dapat diikuti oleh seluruh lapisan warga sekolah tanpa terkecuali. Kegiatan-kegiatan yang berorientasi budaya akan memberi edukasi kepada generasi penerus untuk bisa menghargai budaya budaya asli Indonesia. Semoga di madrasah bisa dilaksanakan misal satu semester sekali di sela kegiatan class meeting.

 

  1. Kirab Budaya.

Kirab budaya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat domestik maupun manca negara. Selain memberi keuntungan secara materi, kirab budaya juga menjadi ajang untuk menampilkan budaya-budaya yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Kegiatan ini telah dilakukan oleh berbagai daerah di Indonesia dan patut mendapat dukungan untuk diwajibkan keberlangsungannya (misalnya kegiatan karnaval madrasah setahun sekali dalam memperingati hari kemerdekaan RI, seluruh siswa menggunakan pakaian adat dan berpawai keliling daerah sekitar madrasah).

 

  1. Budayawan Masuk Madrasah.

Budayawan adalah sosok inspiratif yang dapat menjadi teladan bagi peserta didik. Masing-masing budayawan memiliki latar belakang maupun kerakteristik tersendiri yang ditampilkan. Melalui budayawan masuk madrasah diharapkan mampu menginspirasi dan memotivasi siswa untuk tetap nguri-nguri budaya yang dimiliki.

 

  1. Rekreasi Budaya.

Saling mengetahui antar budaya satu wilayah dengan wilayah lain adalah salah satu upaya untuk membentuk karakter toleransi antar masyarakat berbudaya. Berbagai kasus kerusuhan maupun perang antar suku menjadi kasus yang sering terjadi di Indonesia. Rekreasi budaya dapat menjadi proses pembelajaran untuk saling memahami dan mengetahui budaya satu dengan budaya lain di Indonesia. Kegiatan yang sudah dilakukan di madrasah adalah studi wisata mengunjungi tempat tempat budaya misal keraton,melihat pertunjukan di teater Borobudur.

 

  1. Pengadaan Lomba Seni Budaya.

Proses suatu kegiatan akan menjadi lebih berarti apabila diapreasiasi. Salah satu bentuk apresiasi adalah dengan mengadakan suatu perhelatan dalam bingkai lomba. Selain sebagai ajang yang baik untuk menguji sportivitas, lomba seni budaya juga menjadi bentuk pengawasan maupun evaluasi terhadap wilayah yang telah melakukan program ini secara baik ataupun yang belum. Sebagai contoh madrasah mengadakan lomba membuat wayang dua dimensi di acara class meeting.

Program Gerakan Melek Budaya diharapkan mampu menjadi solusi bagi Indonesia untuk tetap mempertahankan kekayaan budaya yang dimiliki dan mengoptimalkan eksistensinya dalam berbagai bidang kehidupan. Selain menguntungkan untuk diri sendiri, menjaga dan mempertahankan nilai-nilai budaya adalah suatu kewajiban bagi masyarakat Indonesia agar mampu bersaing di percaturan global. Apabila potensi budaya senantiasa dikembangkan, maka eksistensi dan jati diri bangsa Indonesia akan kokoh. Karakter generasi penerus pun akan semakin baik dengan mengacu pada nilai-nilai budaya.

Pada tahap selanjutnya, kesadaran yang baik, dan terjaganya nilai budaya ini akan menjadi modal bagi bangsa Indonesia untuk menjadi negara yang bermartabat yaitu Negara yang berdiri kokoh di atas nilai budaya sendiri. Bukan Negara yang meniru menjadi Negara lain. Kebudayaan Korea selatan nyata bukanlah kebudayaan yang dibangun dari budaya sendiri (K-Pop). Budaya Negara ini telah bertransformasi menjadi Negara yang banyak dipengaruhi Budaya Amerika bukan asli budaya Korea. Karenanya saat Korea menjadi besar, budaya Amerika yang akan membayang di belakang kesuksesan korea itu. Sejarah Amerika membentuk Korea atau mempengaruhi korea dapat ditelusuri seperi tekad Lee yang menjadi ikon pencetus K-Pop. Pada tahun 1985, Lee setelah lulus dari Amerika, dengan bertekad “mereplikasi hiburan Amerika di Korea.” (https://tirto.id) Jadi sebenarnya ketika kita mencontoh Korea, kita sedang diajak untuk meniru contoh yang salah. Korea telah tercerabut dari akar budayanya. Korea bukan asli dan sejati dirinya. Korea adalah wajah lain dari Amerika atau budaya Amerika yang dijalankan orang bermata sipit.

Sebuah postulat budaya dan kebangsaan perlu untuk kita renungkan dan cermati bersama sebagai penguat keyakinan kita untuk terus mempertahankan dan menanamkan kesadaran akan eksistensi budaya sendiri. Negara berwibawa adalah Negara yang menghargai budayanya, sebaliknya negara yang tak menghargai budayanya, sesungguhnya Negara tersebut telah kehilangan entitasnya.

 

Referensi:

Chaidir, Iding dkk. 2014. Iptek Untuk Indonesia Sejahtera, Berdaulat, dan Bermartabat (Bunga Rampai Pemikiran Anggota Dewan Riset Nasional 2014). Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan. ISBN: 978-979-9017-37-6.

Kompas.com 2016. Sekjen PBB: Kebudayaan adalah Jati Diri Kita. [Diunduh pada 26 Agustus 2018].

Liputan6.com 2015. 8 Warisan Budaya Indonesia yang Pernah Diklaim Malaysia. [Diunduh pada 26 Agustus 2018]

Musa, Nurhaidah. 2015. Dampak Pengaruh Globalisasi Bagi Kehidupan Bangsa Indonesia. Jurnal Pesona Dasar. Vol. 3 No. 3, April 2015.

———2016. Statistik Kebudayaan 2016. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sekretariat Jenderal Pusat dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan.

Scholte. 2001. The Globalization of World Politics. Oxford: Oxford Press.
www.kemenpar.go.id Undang-undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya [Diunduh pada 26 Agustus 2018].

Abdurahman, Arif. 2017. Legenda di Balik Penciptaan K-Pop.  https://tirto.id/legenda-di-balik-penciptaan-k-pop-ctX4 .  Tanggal 5 Agustus 2017. Terakhir diakses 4 Desember 2020

 

[1] Nur Aeni, Lahir di Brebes, 27 februari 1980 alumni SI UNNES jurusan BK.Pernah menjadi mahasiswa berprestasi tingkat Universitas, menjadi juara LKTI tingkat Fakultas, menulis di majalah kampus dan koran propinsi.lulus di tahun 2002.ibu dari tiga anak mulai mengajar tahun 2002 semenjak semester delapan di YPI Nasima Semarang.terus 2004 hijrah ke Jakarta mengajar di YPI Alkhairiyah Jakut hingga tahun 2010. Mengajar adalah pilihan hidupnya yang dijalani dengan sukacita dan penuh dedikasi.Alhamdulillah karunia Allah thn 2010 diangkat PNS di MAN 21 hingga sekarang.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply