Perubahan kurikulum yang mau tidak mau harus diikuti dengan perubahan metode dan perangkatnya sering menimbulkan pro dan kontra yaitu seputar perubahan kurikulum yang pada faktanya sering dinilai sebagai langkah yang tidak perlu sebab substansi dalam perubahan itu ternyata tetap sama. Guru hanya akan disibukkan dengan perubahan format dalam perangkat pembelajaran pembuatan RPP atau administrasi semata dengan substansi yang sebenarnya sama. Adanya ini telah menjadi tegangan yang terus berlangsung dalam dunia pendidikan kita selama ini dan menjadi masalah yang tak berkesudahan.
Perubahan kurikulum merdeka, pada awalnya telah menjadi angin segar bahwa kurikulum akan membebaskan sebagaimana ada dalam kata merdeka itu, prakteknya terjerembab dalam lubang yang sama dan guru kembali disibukkan dengan pengisian dan pengenalan perangkat baru yang substansinya sama saja dengan format-format yang ada sebelumnya. Berharap pada kata “merdeka” dalam kurikulum merdeka yang semestinya berarti membebaskan, tapi yang terjadi sebaliknya “penindasan”. Guru atau sekolah menemukan kerumitan yang di kurikulum sebelumnya juga sudah ada, bahkan lebih memberatkan. Lalu pada kurikulum siapa sebenarnya kita berpijak? Sebab pada dasarnya apa yang berlangsung di dalam penggunaan dan penerapan kurikulum di dalam pendidikan kita bahkan dimanapun termasuk asal usul munculnya gerakan fundamentalisme ini di Amerika Serikat, di latar belakangi oleh kekecewaan kaum fundamentalis pendidikan pada hasil pendidikan, lalu berkembang menjadi tegangan dan tarik menarik kepentingan di antara keduanya. Satu sisi, kaum fundamentalis ingin agar pendidikan harus dikembalikan pada kedudukannya yaitu kembali pada penguatan pada 3 kompetensi yaitu membaca (reading), menulis (writing) dan menghitung. Makanya yang dinamakan fundamentalisme ini dapat dipahami sebagai gerakan kembali kepada dasar yaitu mengembalikan kepada dasar utama pendidikan yaitu 3 kompetensi dasar itu. Kenapa harus kembali kepada 3 kompetensi ini? karena kualitas lulusan yang rendah secara kualitas, tidak mampu menjawab tantangan dan kebutuhan industri.
Karena menyelenggarakan pendidikan ini seringkali bersifat ideologis, seringkali tegangan ini mengganggu tujuan pokok pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan yang ada selama ini tidak mencapai apa yang diharapkan. Pendidikan menjadi bias dan seringkali gagap menghadapi zaman. Selain 3 kemampuan dasar yang tidak terwujud, Kebutuhan dunia industri yang juga gagal, sasa nasionalisme juga sering dinilai melemah atau hilang. DI Indonesia, sering ditemukan hasil pendidikan yang jauh api dari panggang, yaitu sikap dan kepribadian anak yang tidak sesuai harapan. Kenakalan remaja dan lain sebagainya.
Fundamentalisme
Pemikiran fundamentalisme adalah pemikiran yang ingin kembali ke dasar. Pemikiran ini digawangi oleh Brodinski dan Max Rafferty. kedua tokoh ini secara garis besar memiliki kegelisahan yang sama sebenarnya yaitu sama-sama ada yang harus diperbaiki dari pendidikan kita, harus ada kendali pada pendidikan. Harus ada dewan yang mengontrol secara ketat kurikulum di sekolah. Mereka mengkritik hasil pendidikan yang didasarkan kenyataan dunia kerja yang kecewa pada hasil pendidikan. yaitu dunia yang sangat membutuhkan tenaga-tenaga terampil dan siap kerja atau lulusan yang memiliki kemampuan basic, tapi dalam prakteknya lulusan yang ada ini justru gagap menghadapi dunia kerja yang pada ujungnya merugikan dunia industri yang membutuhkan kemampuan dasar untuk perusahaan mereka.
Dasar kaum Kaum fundamentalis memandang perlunya pemurnian atas spekulasi yang tidak penting Gerakan kaum ini membawa jargon kembali ke dasar.Mereka juga menilai mata-mata pelajaran yang tidak diperlukan sebaiknya disimpan dan tidak perlu diajarkan dalam kurikulumnya. Mereka menghendaki pendidikan dikembalikan pada marwahnya. lagi-lagi pendidikan harus diserahkan kembali pada tiga aspek utama pendidikan yaitu membaca, menulis dan menghitung. Kaum fundamentalis, melihat adanya ekses negatif adanya pelajaran-pelajaran yang tidak perlu yang mengganggu pelajaran utama, dan menurut kaum fundamentalis adanya pelajaran itu harus segera dievaluasi. Kaum fundamentalis sering dikritik sebagai konvensional dan sering menyuguhkan pembelajaran yang kaku dan membosankan. Tapi orang-orang di kalangan ingin jenis ini, agar tujuan pembelajaran sampai tujuan yang sebenarnya.
Edukasionisme (Progresivisme)
Pemikiran progresivisme atau edukasionisme adalah analisis pemikiran yang menilai perlunya ide-ide, ekperimen-eksperimen dan atau inovasi-inovasi dalam pembelajaran, yang sering melakukan uji-coba metode-metode baru dalam pembelajaran. Pemikiran Edukasionisme ini dimotori oleh seorang filosof atau ilmuwan dalam pendidikan John Dewey. Ide ini terjad di Amerika sekitar era 1950-an dan 1960-an, ketika pendidikan dianggap gagal karena tak sesuai dengan tuntutan. Meskipun demikian, pada umumnya pemikiran edukasionisme ini umumnya lebih disenangi oleh anak dan pada beberapa hasil menunjukkan kekuatan edukasionisme perannya sangat menguat dalam sistem pendidikan kita, salah satu, poin penting pemikiran progresivisme ini ada pada jargon “student centered”. Meski ada catatan-catatan yang perlu diperhatikan. Kritik Kang Iman Jannatul, penggiat Advokasi Guru, sangat menarik artikel yang telah dibuatnya Guru Badut. Artikel ini menggambarkan betapa guru hanya menjadi penghibur bagi anak, namun esensi pembelajaran terabaikan. Guru di dalam pandangan ini kehilangan marwahnya. Guru seperti pelawak yang harus bisa melucu yang intinya membuat anak senang dan sejenisnya. Pada titik ini maka edukasionisme perlu dievaluasi. Edukasionisme harus memperhatikan tujuan pembelajaran sebagaimana yang diresahkan kaum fundamentalis.
Mendamaikan Keduanya
Uraian diatas adalah fakta berupa paparan tentang kelebihan dan kebaikan yang ada pada masing-masing pemikiran atau pandangan. Pada kekuatan yang ada di masing-masing pemikiran semestinya dielaborasi secara positif tanpa merendahkan atau melemahkan satu terhadap lainnya. Kekuatan yang ada pada kaum fundamentalis mengingatkan tentang betapa pentingnya menanamkan nilai dasar bagi anak-anak kita. Di saat yang sama pendidikan juga jangan melupakan kreativitas atau inovasi dalam pembelajaran yang sangat memperhatikan psikologi perkembangan anak, bahwa perlu bagi anak kita tetap dihadirkan inovasi dan metode menyenangkan agar mereka dapat belajar secara nyaman. Jadi tidak perlu menafikan atau menghilangkan kelebihan yang ada pada masing-masing pemikiran, tapi sebaliknya bagaimana sebaiknya pembelajaran mengakomodasi pemikiran-pemikiran yang ada ini.
Apa yang baik di fundamentalis pendidikan harus diperhatikan. Apa yang baik di dalam pemikiran edukasionisme juga harus diperhatikan. Jika faktanya kualitas kepribadian anak menurun, hal itu harus diterima untuk selanjutnya diperbaiki. Jika ada anak kita yang jauh dari nasionalisme, maka harus kita harus perhatikan keadaan itu. Jika ada kritik orang tua pada hasil pendidikan yang gagal dalam ukuran mereka, maka itu harus dijadikan cambuk untuk memperhatikan pembelajaran konvensional dengan tetap memperhatikan perlunya inovasi. Tapi ingat, jangan sepenuhnya menerapkan pandangan fundamentalisme secara kaku, sebab itu akan membuat anak terkekang, apalagi mengakibatkan sistem pendidikan yang kita terapkan mundur ke belakang. Kita harus memilih langkah yang strategis dan taktis untuk menggapai tujuan pembelajaran yang sebenarnya. Walau harus diakui bahwa untuk mendamaikan keduanya ini bukan hal yang mudah sebab keduanya ada perbedaan yang mencolok. Bagaimana menggabungkan dan mengambil sisi-sisi positifnya untuk diterapkan pada pembelajaran. Dalam prakteknya anak-anak sering jadi korban, kelas pun luar biasa tidak terkontrol. di saat yang sama, ada tuntutan harus mengejar nilai ujian tertulis, yang dahulu kita kenal dengan Ujian Nasional atau sejenisnya. Padahal di saat yang sama sekolah juga harus mengakomodasi program program pemerintah yang lain seperti meminta anak berprestasi dalam lomba, ini akan menekan siswa dalam dalam dua tuntutan berbeda yaitu antara memenuhi tuntutan ikut lomba atau memenuhi tuntutan akademik. terhadap fakta ini semestinya pemerintah jangan tutup mata. Tidak semua tuntutan itu dijejalkan pada anak, harus ada pengaturan yang baik yang menjadikan anak berkembang sesuai dengan psikologisnya, bukan sebaliknya.