T Varian Baru Covid B-117: Kapan BerakhirKetakutan ini? | Website MAN 21 Jakarta

Varian Baru Covid B-117: Kapan BerakhirKetakutan ini?

Kali ini kita akan membahas fakta baru yang lagi marak atau sedang viral yaitu hadirnya varian baru Covid yaitu covid jenis B-117 yang disebut-sebut berasal dari Inggris. Berawal dari kepulangan TKI dari Arab Saudi asal Karawang yang ternyata menurut Tim Satgas mengidap COvid Varian baru ini. Di tengah ketakutan, kekhawatiran, kecemasan dan derita yang belum berakhir dari hadirnay Covid yang melanda negeri ini satu tahun lamanya, tida-tiba kita dihebohkan dengan hadirinya virus varian baru yang dikabarkan lebih ganas atau lebih berbahaya. Beritanya cepat tersebar dan mulai menggelisahkan warga dengan segala keluhnay di berbagai media.

Tak lama sesudahnya Mentri kesehatan mennguimumkan temuan baru seolah menjadi satu kebenaran dan keyakinan bahwa varian baru juga telah di temukan pada 6 orang yang mengidap varian baru ini, Tepatnya hari senin 08 Mareet 2010, Mentri Kesehatan mengumumkan adanya 6 temuan yang menunjukkan adanay infeksi virus ini pada enam orang. Sang mentri dengan melakukan pengumuman ini seketiak terlihat bahwa itu menjadi fakta yang benar. Dan bagi kita sebagai warga negara, tentu kembali dengan kecemasan dan abhakan deita yang belum mau berakhir.

Pengumuman ini seperti mengabaikan psikologis masa yang sudah demikian “tersiksa” karena adanya isu covid,. Biasanya pembenaran pun dilakukan yang dijadikan sebagai tameng jawaban sebagaimana isu covid yang dilebihkan juga untuk jaga-jaga. Tapi sayangnya hal ini sekaligus menjadi nyata bahwa ini nayat tak memberi ruang sedikit pun pada kita untuk sesaat menghela nafas. Sebagai ilustrasi, program  Vaksinasi saja belum nyata membuahkan hasil artinya covid kemaren masih menakutkan, tiba tiba disodorkan fakta baru, yang seolah tersaji pengumuman bahkan bias menjadi terror yang seolah jangan seneng dulu ini ada virus varian baru covid yang lebih ganas.

Media dalam kasus ini  perlu diingatkan artinya bukan semata menjadi institusi yang sekedar memberitakan tanpa melihat apa dampak pemberitaan itu. Media juga punya tanggng jawab etis untuk mengatur display pemberitaan agar tidak terburu-buru atau semata motive ekonomi ata rating semata. Cobalah menghargai psikologi masa, di tengah nasib ekonomi yang belum membaik, biarkan mereka bias bernafas lega walau sesaat seperti kabar menurunnya statistic penderita covid, tentu menjadi kabar bahagia yang melegakan dada. Meskipun kebahagiaan dan kelegaan ini harus tetap disertai kenyataan benar atau tidak adanya varian baru itu. Kalau ternyata itu baru anggapan sementara (asumsi), sudah dipublikasikan, apalagi ternyata varian itu tidak ada maka sungguh akan menjadi kedzoliman yang luar biasa bagi masyarakat kita.

Luar biasa ruang pblik kita dirampas oleh angkuhnya klaim kebenaran yang  membunuh hak tenang warga negara atau masyarakat, yaitu dalam posisinya sebagai manusia. Wajar jika ada orang yang pasrah dengan nasibnya di masa pandemic dengan mengatakan ya udah kalu memang sudah waktunya mati ya biarkan mati. Fakta ini juga bukan berarti kita menyerah dengan covid. Ini hanyalah narasi fakta psikologis bagaimana mereka tak tahan lagi dengan derita akibat virus ini yang entah benar ada atau tidaknya varian baru. Apalagi ditambahi keterangan bahwa varian baru ini lebih membahayakan atau lebih mematikan, dst.

Sementara itu para ahli sendiri belum final mengidentifikasi jenis varian baru ini. Sebagai contoh apa yang disampaikan Guru Besar Virologi Universitas Udayaya, I Gusti  Ngurah Mahardika, bahkan posisi beliau juga ada Dewan Pakar Covid-19 belum bisa memastikan virus yang dilabeli dengan identitas covid B-117. Tapi mentri Kesehatan sudah mengumumkan adanay varian ini bahkan di 6 orang terindikasi. Luar Biasa. Beluam selesai mengidentifikasi tapi sudah diumumkan ke Publik,

Sementara itu menurut I Gusti Ngurah mahardika, di negeri asalnya Inggris faktanya belum jelas, jika Benar varian in jauh lebih membahayakan atau lebih mengerikan, nyatanya hingga kini belum ada data yang memperlihatkan  fakta bahwa jenis virus ini membahayakan sebagaimana yang diberitakan itu. Ia membuat analogy jika kita diminta mencari pohon dengan cirri batang dan empat ranting, maka saya belum menemukan pohon dengan 4 ranting itu. Artinya kesimpulan adanya virus baru ini belum ada ukuran yang jelas di lapangan seperti apa. Ini ahli virology yang bicara, jadi bagaimana mungkin hal ini sudah diumumkan di public sebagaimana yang disampaikan menkes..

Jika maksudnya, agar masyarakat ber-siap yang artinya pengumuman ini sebagai suatu warning, tolonglah agar dikabarkan sekedarnya. Atau yang paling baik adalah teliti hingga benar-benar di dapati fakta adanay viruss baru ini sebagai nyat dan terbukti, baru diberitakan atau diumumkan. Sekali lagi, biarkanlah rakyat kita bernafas sesaat di tengah derita ekonomi dan deita lainnya yang dirasakan oleh banyak warga bangsa ini. Tolong hargailah dan berilah ruang sedikit rakyat kita ini untuk menikmati udara segar tanpa pemberitaan yang menakutkan sebagaimana pernyataan Jokowi sendir yang di setaip saat di Iklan RRI mengatakan bahwa virus corona tidak berbahaya, 94 % pasien yang terkena virus ini dapat disembuhkan. Juga fakta isolasi mandiri pengidap virus dapat sembuh dengan pengobatan sendir di rumahnya. Sadarkah Pak mentri akibat dari pennyataan in seperti menghembuskan kembali ketakutan setahun yang nyata membuat sengsara.

 

 

Penulis

Arif Budiman, Guru Sejarah MAN 21 Jakarta. Ia juga aktif di Lingkar Amanah Budaya (LAB), yaitu Kelompok atau Lingkar Diskusi yang Konsern Pada Tema Apa Manfaat Sejarah Buat Diri Saya.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply