Pengalaman Unik Pengawas: Kekuatan Sebuah Nama
Oleh Luqman Abat
Sebuah fenomena unik, religius, sekaligus menggelitik mewarnai pelaksanaan Ujian Berbasis Komputer (CBT) Jalur Reguler pada PMBM MAN 21 Jakarta hari ini, Senin (29/6/2026). Bertugas sebagai pengawas di ruang 2, saya disuguhi pemandangan langka yang tidak hanya menguji ketelitian, tetapi juga memberikan refleksi psikologis dan spiritual yang mendalam. Berikut adalah catatan menggelitik dan penuh makna dari meja pengawas. Di ruang 2 yang membuat hari ini saya terasa sangat istimewa.
Nama peserta di ruang 2 serba “A”, sebelum “Bella” datang menyelamatkan keberagaman. Keunikan di ruang ini sudah saya rasakan sejak sesi pertama dimulai. Saat memeriksa lembar kehadiran, saya sempat tertegun karena ruangan ini nyaris 100% dikuasai oleh siswi perempuan. Menariknya lagi, mereka seperti sedang mengantre di barisan alfabet karena semuanya kompak memiliki nama depan berinisial A. Mulai dari Amira, Aninda, Anindya, hingga nama Annisa yang muncul berulang hingga tiga kali. Sampai membuat saya harus super teliti mengecek kartu satu per satu agar tidak tertukar. Di tengah lautan siswi berinisial A ini, terselip tiga siswa laki-laki yang untungnya juga sehobi dalam urusan inisial, yaitu Aqya Qalby, Arsyad Azka, dan Azzam Maritza.
Secara psikologis, saya sudah mengira ruangan ini akan menjadi ruangan dengan pola “A” yang sempurna. Namun, ekspektasi itu langsung pecah di urutan akhir saat nama Bella Aisyah muncul. Kehadiran Bella seolah menjadi plot twist humoris sekaligus pelajaran psikologis penting bagi saya, dalam hidup, seketat apa pun sebuah kelompok atau pola terbentuk, perbedaan akan selalu hadir sebagai pelengkap agar suasana menjadi lebih berwarna.
Lanjut ke sesi 2. Jika sesi 1 dipenuhi teka-teki alfabet, maka sesi 2 berubah total menjadi momen yang membuat saya merinding sekaligus takjub. Bagaimana tidak? Dari nomor urut 1 sampai nomor urut 20, seluruh peserta di Ruangan yang saya awasi memiliki nama depan Muhammad! Saat memanggil peserta satu per satu untuk verifikasi, serasa sedang memimpin sebuah majelis taklim akbar, bukan sedang mengawasi ujian CBT. Kejadian ini membawa dampak psikologis dan spiritual yang luar biasa di dalam ruangan, adem dan teduh.
Secara spiritual, nama “Muhammad” membawa berkah dan energi positif yang besar. Atmosfer ujian yang biasanya tegang dan penuh kepanikan langsung berubah menjadi sangat tenang, sakral dan damai sejak mereka duduk di kursi masing-masing. Mungkin karena disatukan oleh nama sang teladan umat, ke-20 peserta ini menunjukkan tingkat kedisiplinan dan fokus yang luar biasa tinggi selama ujian berlangsung.
Sisi humorisnya tentu menimpa saya sendiri, sebuah ujian konsentrasi. Memanggil nama peserta dengan kata depan “Muhammad…” otomatis membuat seisi ruangan menengok bersamaan. Alhasil, saya harus mengeja nama tengah dan belakang mereka dengan ekstra hati-hati dan artikulasi yang jelas agar tidak salah panggil.
Pengalaman mengawas di ruang 2 hari ini menjadi bukti bagi saya bahwa ruang ujian tidak selamanya menegangkan. Di balik deretan soal-soal CBT yang rumit, selalu ada cerita humanis, humoris dan sentuhan spiritual yang membuat kita sadar betapa indahnya kekuatan dari sebuah nama.
Selamat berjuang untuk seluruh “Muhammad”, “Annisa”, dan tentu saja “Bella” yang sudah saya awasi hari ini! Kita tunggu hasilnya dan semoga bisa bergabung di MAN 21 Jakarta pada TP. 2026/2027 mendatang! Insya Allah.(Luqman)